13933075_10208522541833394_2114006097_n

Kairo, Mesir – PPI Dunia tahun ini kembali menyelenggarakan pegelaran Simposium Internasional yang kali ini bertajuk “Memperteguh Identitas Bangsa Indonesia”. Minggu (23/7), Simposium Internasional PPI Dunia ini dibuka oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin dan dilanjutkan dengan beberapa rangkaian kegiatan lainnya.

Dialog interaktif bersama Menteri Agama RI menjadi agenda kedua setelah pembukaan. Dalam dialog tersebut, Menteri memberikan pesan kepada pada ribuan peserta yang hadir akan pentingnya menyadari keberagaman kita. Beliau berpesan bahwa sebagai orang Indonesia, kita harus meresapi fakta bahwa kita hidup dalam kebhinekaan dan dalam waktu yang sama kita adalah bangsa yang beragama.

Namun, beliau tekankan, dasar negara bukanlah agama, tapi Pancasila yang sudah secara penuh merefleksikan ajaran-ajaran setiap agama yang ada di Indonesia.

Diskusi-diskusi panel

Kegiatan simposium dilanjutkan dengan beberapa diskusi panel: politik, pendidikan dan budaya, ekonomi, dan terakhir agama. Beberapa tokoh nasional yang hadir dalam diskusi-diskusi tersebut antara lain: Prof. Mahfud MD, Prof. Yudi Latif, Prof. Faisal Basri, dan Prof. Nasaruddin Umar. Diskusi panel dimoderatori oleh satu perwakilan PPI seluruh dunia yang terpilih.

Perwakilan PPI Selandia Baru, Muhamad Rosyid Jazuli, mendapat kesempatan untuk memoderatori diskusi panel ekonomi yang salah satu pembicaranya Faisal Basri.

Secara umum, diskusi-diskusi panel membahas bagaimana bidang-bidang tersebut dapat menjadi perantara untuk menjawab pertanyaan bagaimana memperteguh identitas bangsa. Dalam kacamata politik, ditegaskan oleh para pembicara bahwa Pancasila merupakan identitas utama bangsa Indonesia yang tidak bisa ditawar lagi. Meski demikian, bagaimana memaknai identitas ini memang tidak bisa bersifat baku.

Meski Indonesia memiliki Pancasila, pemaknaannya akan selalu berkembang mengikuti zaman. Pada masa perjuangan hingga reformasi ini tentu identitas bangsa berubah mengikuti zaman.

Begitu juga para pemuda dalam mengenali perannya untuk berkontribusi pada negara, pemahamannya ikut berkembang juga. Namun dari semua itu, keberadaan Pancasila sebagai rujukan akan selalu memberi petunjuk bahwa apa saja yang kita perbuat akan beracuan pada nilai-nilai luhur yang menjunjung persatuan dalam keberagaman.

Apa sistem ekonomi Indonesia?

Dalam panel ekonomi, ditekankan bahwa pada kenyataannya Indonesia tidak menyatakan bahwa arah kiblat mana sistem ekonomi negara ini ditujukan. Bukan liberalisme, juga bukan komunisme. Beberapa mengatakan bahwa ekonomi Indonesia adalah kerakyatan.

Namun ditegaskan oleh Faisal Basri bahwa semua sistem ekonomi itu kerakyatan. Artinya apapun sistemnya, keinginan rakyat pasti yang menjadi acuan. Dalam diskusi yang dimoderatori perwakilan PPI Selandia Baru ini, dibeberkan banyak kenyataan bahwa ketidak-jelasan tentang sistem ekonomi Indonesia, negara menderita akibat ketimpangan ekonomi dan masalah kemiskinan.

Dikatakan bahwa meski pertumbuhan ekonomi Indonesia positif, pembangunan belum merata dan terkuak bahwa kepemilikan kekayaan sangatlah timpang. Artinya, kue pertumbuhan ekonomi belum tentu dinikmati oleh tetangga kita. Atau mungkin, malah kita sendiri tidak bisa menikmatinya.

Solusinya, kita perlu focus pada dua hal penting yakni peningkatan dan perbaikan pendidikan menengah dan tinggi dan peningkatan kapasitas dan kapabilitas teknologi kita. Banyak contoh di dunia tentang apa yang perlu dilakukan pada pendidikan dan teknologi untuk memajukan sebuah bangsa. Sayangnya, belum ada kesadaran dalam menggunakan contoh-contoh yang ada menjadi sebuah gagasan yang diwujudkan menjadi aksi nyata untuk meraih kemajuan.

Rencana aksi: Peduli petani Indonesia

Pada hari ketiga (26/7), diselenggarakan rapat komisi yang dibagi menjadi empat sesuai panel: Ekonomi, Politik, Pendidikan dan Agama. Dalam diskusi-diskusi komisi ini, bagaimana pelajar khususnya yang berada di luar negeri memiliki peran dalam proses-proses politik dan permasalaan pendidikan bangsa.

Khususnya pada bidang ekonomi, salah satu hasilnya diskusinya adalah rencana aksi kepedulian PPI Dunia pada nasib petani dalam negeri. Sekiranya tidak ada kendala, perwakilan PPI Dunia akan memulai pilot project desa binaan di Indonesia. Program ini akan dilaksanakan dengan bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa di Indonesia.

Tentang Papua

Beberapa kelompok diskusi di luar diskusi komisi. Salah satu isu yang akan diangkat adalah isu Papua yang telah menjadi konsen teman-teman pelajar di luar negeri. Dalam salah satu diskusi yang diinisiasi oleh tim kajian isu Papua ini, ditekankan bahwa pelajar Indonesia di luar negeri memiliki peran besar dalam membantu penanganan isu-isu negatif tentang Papua. Diskusi ini dianggap penting sebab info yang berkembang di media tidak sesuai fakta. Kalau pun benar, sekiranya masalah tersebut sudah diselesaikan.

Salah satu output dari tim kajian ini adalah surat terbuka kepada Jeremy Corbyn “An Open Letter to Jeremy Corbyn from Indonesia” yang diluncurkan oleh PPI Inggris. PPI selaku perwakilan kelompok pelajar dan mahasiswa merasa perlu untuk menyampaikan sikapnya terhadap isu ini.

Karena, pada dasarnya, semangat untuk masuk dalam perdebatan ini adalah semangat untuk mempertahankan keutuhan bangsa dan perasaan bahwa setiap orang di Indonesia ini, tak peduli ras ataupun golongannya, adalah satu keluarga!

Memiliki semangat yang sama, PPI Selandia Baru menyatakan bahwa siap bergabung dengan tim kajian Papua ini. Terhitung sejak selesainya Simposium Internasional tersebut, PPI Selandia Baru secara resmi aktif menjadi anggota tim kajian dan aktif untuk berkonsolidasi untuk memberikan solusi-solusi untuk isu ini.

Penutup: Pertanggungjawaban dan presidium baru

Hari terakhir Simposium Internasional tersebut (27/7) dilaksanakan Kongres PPI Dunia. Agendanya adalah laporan pertanggung jawaban pengurus atau dewan presidium (depress) lama dan pemilihan depres baru. Dalam konteks PPI, depress merupakan dewan pimpinan tertinggi yang diketuai seorang koordinator.

Sidang yang berlangsung lama akhirnya menyatakan bahwa laporan pertanggungjawaban Dewan Presidium PPI Dunia 2015-2016 diterima dengan bersyarat.
Siding terakhir merupakan pemilihan koordinator baru. Dalam prosesnya, terdapat dua calon yang maju menjadi calon koordinator Dewan Presidium PPI Dunia yakni PPI Malaysia dan PPI Italia. Setelah dilaksanakan voting, PPI Italia terpilih menjadi koordinator terpilih 2016-2017 yang diwakili oleh ketuanya yakni Sdri. Intan Irani.

Kongres ini kemudian ditutup dengan pemilihan tuan rumah Simposium Internasional PPI Dunia tahun 2017. Dari beberapa PPI yang mengajukan diri sebagai tuan rumah, PPI Inggris terpilih menjadi tuan rumah selanjutnya. Terpilihnya PPI Inggris tersebut menandai akhir dari rangkaian kegiatan Simposium Internasional PPI Dunia tahun 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *