Wellington City

Hidup di Wellington

Siapa yang tidak tahu Selandia Baru? Bagimu yang pernah menonton film serial The Hobbit dan The Lord of The Ring, tentu pernah mendengar bahwa sebagian besar setting film tersebut diambil di negeri yang bernama Selandia Baru ini. Meski kedengarannya negara seperti negara yang besar, jumlah populasinya rupanya tidak sampai 5 juta orang. Di ibukotanya, tak lebih dari 500 ribu orang tinggal di sini.

Negara ini berada di belahan bumi selatan. Jika kamu melihat peta Australia, maka Selandia Baru ada di timur agak ke selatan benua kangguru itu.

Karena lokasinya, selandia baru memiliki 4 musim seperti negara-negara di belahan bumi semacam Amerika dan Jepang. Namun, bedanya hanya musim di sini kebalikan dari apa yang terjadi di utara sana. Kalau akhir tahun kita melihat banyak film dari Amerika yang menampakkan salju, maka di Selandia Baru senang panas-panasnya.

Kalau di Amerika ada suku Native American, di Selandia Baru ada orang dari suku Maori yang dianggap sebagai suku asli di sini. Mereka juga punya banyak atribut dan keseninan yang menjadi ciri khas suku mereka seperti rumah tradisional, ukir-ukiran dan juga tari-tarian. Bagi kalian yang pernah mendengar Tarian Haka, yang dimainkan tim Rugby Selandia Baru sebelum bemain, itulah salah satu tarian tradisional dari suku Maori.

Ibukotanya adalah Wellington. Tidak seperti di Jakarta-nya Indonesia yang belasan juta orang tinggal di sana, di Wellington hanya ada 400 ribu orang populasinya. Jadi bisa dibayangkan jauh perbedaannya. Jika kamu yang terbiasa tinggal di kota yang ramai, hidup Wellington bisa jadi terasa sangat berbeda.

Orang-orang Indonesia di Wellington

Dari 400 ribuan orang di Wellington, kurang lebih 500 di antaranya adalah orang Indonesia, termasuk orang Indonesia yang sudah permanent resident di sini. Mereka ada yang bekerja atau belajar di sini. Ada kurang lebih 100 pelajar dan mahasiswa di sini.

Para pelajar sebagian besar belajar di Victoria University of Wellington. Selainnya, mereka belajar di Massey University, Weltec, Yoobee dan Cordon Blue. Ada juga pelajar yang masih menempuh pendidikan setara SMP-SMA di sini.

Di Wellington juga terdapat Kedutaan Besar RI. Banyak kegiatan yang bisa diikuti oleh orang Indonesia di sana mulai dari peringatan hari besar nasional hingga kegiatan-kegiatan kebudayaan dan social. Yang paling ditunggu adalah tersedianya masakan Indonesia di acara-acara tersebut sehingga selalu dinanti-nanti.

Komunitas orang Indonesia di sini juga eksis. Di antaranya adalah kami dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Wellington (PPIW), juga yang lainnya seperti Keluarga Masyarakat Indonesia (Kamasi), Umat Islam Indonesia (UMI) dan Keluarga Katolik Indonesia di Wellington (KKIW).

Bagi yang Kristiani, sangat mudah di sini menemukan gereja karena memang mayoritas warga Selandia Baru pemeluk Kristiani.

Bagi teman-teman yang Muslim, di Wellington terdapat beberapa tempat untuk menunaikan ibadah. Islamic Center dan Masjid yang utama terdapat di daerah Kilbirnie. Sayangnya bagi pelajar yang umumnya belajar di Victoria University of Wellington, masjid itu sangatlah jauh. Namun tenang, kita bisa menemukan tempat untuk bersembahyang di kampus. Jadi tidak usah khawatir. Ketika waktu sholat Jumat pun, di kampus juga diselenggarakan.

Transportasi dan akomodasi di Wellington

Untuk bepergian, seperti layaknya negara maju, transportasi umum di sini sudah sangat memadai dan baik pengelolaannya. Untuk bepergian di dalam kota ada bus Go Wellington. Jika ingin ke area di luar kota (suburb), bisa naik kereta Metlink. Jika ingin lebih fleksibel, maka memiliki kendaraan sendiri tentu lebih nyaman dan lebih cepat seperti mobil ataupun motor.

Tentang akomodasi, tinggal di Wellington memang terasa agak mahal. Harga rumah di sini sangat mahal begitu juga ketika kita menyewanya. Bagi yang tidak memiliki rumah, maka menyewa rumah dengan sistem flatting bisa dilakukan. Artinya kita menyewa satu rumah bersama orang lain yang kita sebut flatmates.

Bagi pelajar Indonesia, umumnya banyak mengambil pilihan tersebut karena relatif lebih murah. Sebagai gambaran, sewa satu minggu sebuah rumah bisa mencapai 400 – 700 per dollar per minggu. Jika itu dibagi dengan beberapa orang, maka akan terasa ringan.

Selain flatting, sebagian memilih untuk tinggal di asrama atau hall milik universitas. Ini dipilih umumnya bagi pelajar S1. Ada juga yang memilih untuk menyewa apartemen. Pilihan terakhir itu adalah seperti layaknya apartemen di Indonesia pada umumnya, berada di satu bangunan tersendiri yang di dalamnya banyak ruang-ruang yang disewakan. Di sini, sistem sewa sebagian besar menggunakan periode mingguan.

Tempat-tempat yang bisa dikunjungi

Wellington memiliki banyak tempat yang bisa kita kunjungi ketika ada waktu luang. Jika kamu menyukai sejarah, maka bersenanglah karena banyak museum di sini yang menyediakan akses gratis salah satunya museum pusat di Wellington yakni Te Papa.

Selain itu, kota ini banyak memiliki taman dan juga garis pantai yang indah. Taman-taman di Wellington tertata dan terawat dengan baik. Garis pantai kota Wellington dibangun dengan baik. Di sana jugalah museum Te Papa berada. Salah satu area yang dinamakan Water Front seing dijadikan tempat berkumpul bersama teman-teman atau keluarga. Selain bisa menikmati pemandangan laut yang cantik, terdapat banyak restoran dan bar tempat menghabiskan waktu luang.

Wellington

Pengalaman baru!

Wellington adalah kota yang tenang. Toko-toko di pusat kota bahkan hanya buka sampai setengah enam. Setelah itu, praktis kota ini ‘sepi banget’.

Karena berada di tepi laut, cuaca di kota ini sering berubah-ubah. Tidak seperti umumnya kota di Indonesia, satu waktu di Wellington cuacanya bisa tenang dengan suhu yang nyaman. Namun satu waktu lain bisa penuh dengan angin kencang dengan perubahan suhu yang sulit diprediksi.

Di luar itu semua, tinggal di Wellington bisa menjadi pengalaman baru bagi setiap orang Indonesia, khususnya para pelajar. Jika kamu akan ke Wellington, siap-siaplah memulai pengalaman barumu!

-Ditulis oleh Jazz Muhammad-