Mempublikasikan jurnal artikel dan buku merupakan suatu bentuk kontribusi kita sebagai mahasiswa, akademisi maupun peneliti. Dari situlah kita bisa membagi pengetahuan dan pemikiran kita yang akan memperkaya bidang keilmuan. Dimulai dari menulis book review misalnya, aktivitas ini tidak hanya menggali wawasan kita terhadap buku yang kita review tetapi juga menegaskan posisi dan pemikiran kritis kita terhadap pengetahuan diperoleh. Di samping itu, menulis jurnal artikel juga dapat meningkatkan kemampuan analisa dan mengembangkan metode problem solving. Itulah mengapa saat ini publikasi artikel jurnal dan buku telah menjadi persyaratan di semua disiplin ilmu.

Publikasi jurnal maupun buku di tingkat nasional atau Internasional mulai digunakan menjadi indikator kualitas pendidikan di suatu negara. Dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia seperti Malaysia dan Cina yang sangat produktif mempublikasikan hasil tulisan mereka, Indonesia masih perlu berbenah. Lalu apa yang menyebabkan perbedaan kemampuan publikasi jurnal atau penelitian ini cukup signifikan? Hal ini berkaitan dengan sistem pendidikan kita dimana budaya menulis kurang dikembangkan sejak dini. Kecenderungan untuk menjadi konsumen dan pola pikir yang serba instan masih mendominasi budaya kita sehingga menjadi kurang produktif.

Menulis book review maupun jurnal artikel menjadi tantangan tersendiri bagi penulis. Peer review dan proses editing yang cukup panjang menjadi bagian dari tantangan tersebut. Di samping itu, terdapat pengorbanan tersendiri untuk penulis dalam menciptakan sebuah karya yang baik dan dianggap layak. Ini jugalah yang terkadang menjadi bahan pertimbangan penulis dalam hal apakah sebanding dengan upaya dan waktu yang dikorbankan.

Dalam diskusi WIND 24 November 2016 yang dibawakan oleh Pak Ribut Wahyudi, terdapat beberapa langkah untuk menulis book review. Pertama, menulis garis besar isi buku yang direview secara keseluruhan dan menulis gagasan-gagasan utama dalam setiap chapter dengan bahasa kita sendiri. Langkah berikutnya adalah menulis evaluasi kita terhadap buku tersebut, apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari buku yang kita review. Kita harus menemukan perbedaan buku tersebut dari buku sejenisnya dan hal yang seharusnya ditulis dalam buku tersebut namun tidak disebutkan penulis.

Sedangkan untuk menulis jurnal artikel atau book chapter, Pak Ribut menyampaikan beberapa tips. Pertama, mengetahui apa yang menjadi minat kita dan memperbanyak membaca di bidang yang kita minati tersebut. Kedua, memahami perdebatan di topik yang kita minati dan perbedaan antara kualitatif dan kuantitatif dalam bidang keilmuan sembari mengembangkan cara berpikir metacognitive. Setelah itu, kita dapat mengirim hasil tulisan kita ke jurnal atau editorial board yang relatif baru namun diakui dan bebas biaya.

Sangat penting bagi penulis untuk belajar dari feedback yang diberikan viewer. Akan tetapi jika feedback tersebut menyulitkan di tingkat yang tidak signifikan dan bahkan mengubah ide kita, kita dapat saja menarik dan mengirim artikel kita ke jurnal lain. Book chapter yang ditulis oleh Ribut Wahyudi berjudul “Turning classroom assignments into published journal Article : What have we learned from these practices?” bisa menjadi alternatif yang baik untuk memperkaya wawasan kita dalam menulis jurnal artikel.

Ditulis oleh Prili Sumarsono
Diedit oleh Eka D. Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *